Cara Trading Forex Akurat Memanfaatkan Kondisi Overbought dan Oversold


Traders, sudahkah Anda tahu trik menemukan titik balik (reversal) dari pergerakan harga mata uang?

Salah satu caranya adalah dengan mencari tahu kapan kondisi market sedang overbought dan kapan saat sedang oversold?

Istilah “Overbought” dan “Oversold” digunakan untuk menggambarkan kondisi pasar yang dalam istilah sehari-hari dapat disebut “Jenuh Beli” dan “Jenuh Jual”

Jenuh Beli atau Overbought dengan bahasa sederhana dapat kita artikan bahwa pada saat itu kondisi market sudah terlalu banyak transaksi Beli (Buy) yang mengakibatkan kenaikan harga mata uang.

Sehingga pada saat kondisi mata uang yang tinggi tersebtut diperkirakan akan banyak trader melakukan aksi Jual (Sell) yang mengakibatkan harga akan turun kembali.

Begitu juga sebaliknya dalam kondisi Jenuh Jual atau Oversold.

Jadi kata kuncinya adalah “terlalu banyak“, terlalu banyak terjadi transaksi BUY sehingga terjadi Overbought dan terlalu banyak transaksi SELL sehingga terjadi Oversold.

Kondisi ini terjadi secara normal dan simultan berulang-ulang sehingga perlu kita manfaatkan untuk mendapatkan keuntungan.

Cara Mengukur Overbought dan Oversold

Kondisi Overbought dan Oversold ini dapat dengan mudah diukur dengan indikator teknis yang juga disebut osilator atau occillator.

Dua contoh indikator Osilator yang sudah populer di antara para trader adalah Stochastics dan RSI.

Osilator adalah sebuah indikator momentum yang digunakan untuk mengukur harga dengan cara membandingkan harga pair mata uang dan harga historisnya dalam periode waktu tertentu.

BACA JUGA:  Pelajaran 6: Pada Jam Berapa Trading Forex Dapat Dilakukan?

Skala kedua indikator tersebut antara 0 sampai 100.

Maka ketika Stochastics mencapai tingkat 80, market dianggap overbought dan ketika Stochastics mencapai tingkat 20, market dianggap oversold.

Pada indikator RSI juga menggunakan skala yang sama yaitu 0 sampai 100, tetapi nilai untuk overbought adalah 70, sementara nilai untuk oversold adalah 30.

Ide dasarnya adalah ketika market mencapai titik Over, baik itu Overbought maupun Oversold kesempatan terjadinya pembalikan menjadi semakin besar.

Namun perlu menjadi perhatian bahwa kondisi ini ini tidak selalu berarti bahwa pembalikan sudah dekat.

Market yang berada dalam uptrend yang kuat akan tetap berada dalam kondisi overbought untuk jangka waktu yang lama.

Sebaliknya, market yang berada dalam downtrend yang kuat akan tetap berada dalam kondisi oversold untuk jangka waktu yang lama.

 

Osilator memiliki nilai yang lebih terbatas ketika trending daripada ketika sideway.

Namun, ketika harga market cenderung menurun dan osilator bergerak naik menuju overbought, pembalikan sulit terjadi.

Sebaliknya, ketika market berada dalam uptrend dan osilator bergerak ke oversold, pembalikan lebih mungkin terjadi.

 

trading forex saat oversold overbought

 

Pada gambar diatas adalah contoh penggunaan grafik harian EUR/CAD, nilai 15,5,5 yang telah dipasang grafik menggunakan Stochastics.

Anda dapat melihat bahwa ketika market sedang downtrend, indikator Stochastics berada lebih lama dalam kondisi Oversold daripada ketika dalam kondisi Overbought.

Oversold biasanya banyak terjadi dalam market yang mengalami trend turun yang kuat.

BACA JUGA:  Cara Trading Forex Akurat Menggunakan Pola Bearish Flag

Demikian juga halnya ketika Stochastics bergerak naik ke kondisi overbought, market cenderung membalikkan harga dan bergerak ke arah tren yang baru.

Ini adalah salah satu cara bagaimana trader menggunakan indikator untuk mengidentifikasi peluang trading.

Kunci dari ilustrasi di atas adalah market cenderung menurun. Setelah itu, kita tinggal mencari sinyal jual yang bergerak turun dari level 89 pada Stochastics.

Jika market berada dalam kondisi uptrend, maka yang dicari oleh trader adalah titik oversold pada daerah 20.

Jadi, sementara osilator bermanfaat untuk mengidentifikasi peluang trading saat tren dan arah pada indikator memiliki kecenderungan yang sama, maka kemungkinan besar sinyal yang diberikan valid



SHARE